Kacamata Kita dan Anak

 EVERYDAY is SPECIAL DAY for them...

Sudut pandang anak kecil berbeda dengan yang dilihat oleh orang dewasa. Sebagai seorang ibu muda, saya banyak dikejutkan dengan tingkah spesial mereka. Saya selalu berpikir saat ini sedang belajar memahami pola tingkah laku anak-anak. memerhatikan dengan seksama, bagaimana cara berpikir mereka, bagaimana cara mereka menanggapi suatu hal, saya berusaha mempelajarnya. tetapi selalu saja ada hal yang menjadi kejutan. Kejadian hari ini menjadi pelajaran berkesan bagi mahmud seperti saya, ya, bahwa hal yang kita anggap kecil dan biasa saja, bisa menjadi sangat berarti dan spesial bagi mereka [anak-anak].

Si Kaka usianya belum genap 6 tahun. Hari ini dia menunjukkan kepada saya bahwa mereka selama ini mengamati tindak tanduk orang tuanya DENGAN TELITI. merasakan empati -entah usia berapa mulai tumbuhnya- tapi saya belakangan ini baru menyadarinya, hal itu sudah tertanam pada si Kaka. 

Selepas zuhur rasanya ingin memejamkan mata sejenak setelah rapi menyiapkan santap siang bocah-bocah.

"ummi hari ini lagi cape banget, mau istirahat dulu, mba temenin adik main ya.."

pesan singkat yang sekenanya saya sampaikan pada si Kaka sambil merebahkan badan.

nampaknya si Kaka menangkapnya sebagai sinyal permintaan bantuan ummi kepadanya.

ya belakangan ini sejak teteh tidak ada, saya mengerjakan semua pekerjaan rumah dibantu oleh ayahnya anak-anak. bisa dibayangkan jikalau pekerjaan rutin biasa dibagi dua, kemudian datang waktu suami mendapat tugas luar kota, alhasil semua menjadi tanggung jawab saya seorang diri. Ternyata si Kaka sudah bisa melihat saya yang kualahan memegang semua tugas. tanpa disuruh dia sudah tau bahwa tugas dia bermain dengan adik.

namun yang mengejutkan, dari mulut mungil bocah usia lima tahun setengah lebih, "ummi, ummi cape ya jadi ngerjain semua kalau ga ada abi? bilal mba aja yang pakaikan baju habis mandi, kalau mau pipis juga mba aja yang bantu dan pakaikan celana" MasyaAllah.. 

dan perkataannya bukan hanya bercandaan dan omong kosong,namun tanpa disuruh dia bergegas dan sigap mengerjakannya.

Hari ini memang bukan yang pertama kali bagi kaka membantu saya merapikan cucian bersih yang belum digosok. Dulu sewaktu usianya 4 tahun dia memang saya ajak untuk melipat bajunya sendiri, betapa bahagianya seorang anak yang mendapatkan tugas dari ibunya, ya.. walaupun lipatannya bisa kita bayangkan (lipatan usia anak 4 tahun yang sebelumnya tidak pernah melipat baju sama sekali}. tapi itu dulu sewaktu kami di perantauan. dan setahun berselang dia tidak pernah mengerjakannya lagi. namun hari ini, melihat setrika tergeletak, karena saya berniat menggosok baju namun sudah kepayahan, dia mengambil posisi duduk dan langsung menggosok bajunya sendiri. dia pilah dan ambil baju dia dan adiknya untuk dia kerjakan. saya mengira hanya iseng dan mainan dia saja. saya ketiduran. dan ketika terbangun saya tidak menemukan sehelai baju pun punya dia dan adiknya di tumpukan gosokan. MasyaAllah tabarakallah. 'mba sudah rapikan semua mi, sudah dimasukkan ke lemari masing-masing.T_T terenyuh seketika mendengarnya, dan alhamdulillah auto terucap berulang kali. ya semua itu atas kehendak Allah. Itu adalah fitrahnya seorang anak yang masih lugu.. langsung teringat betapa jahatnya saja ketika marah atas kelakuan lugunya yang kadang memang salah atau bahaya tapi memang mereka belum mengetahuinya.

rasanya apresiasi kecup dan peluk yang kita anggap sepele mungkin sangat berarti bagi mereka. maafkan ummi yang masih jauh dari standar baiknya seorang ibu, bagi kalian. Aisyah dan Bilal.


Comments